Renungan
Bayangkan di sebuah ruang kelas yang sepi hening, kamu duduk menatap bangku kosong di depanmu.
Di sana, terlihat seorang guru berdiri dengan spidol di tangan dan terlihat lelah, namun matanya tetap bersinar mendoakan kesuksesanmu.
Dan sekarang Bayangkan di rumah yang tadi kamu tnggalkan
Ada seorang ibu yang kulitnya mulai mengerut, yang tiap malam diam-diam berdoa menyebut namamu di setiap sujudnya,
dan seorang ayah yang keringatnya jatuh demi memastikan perutmu kenyang dan pendidikanmu terjamin.
Anak anak
Seringkali kita pulang ke rumah dengan wajah cemberut, membanting pintu, atau menjawab panggilan ibu dengan nada tinggi.
Padahal, Rasulullah bersabda: bahwa
"Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua." (HR. Tirmidzi).
Ingatlah saat kamu kecil. Siapa yang terjaga saat kamu demam? Siapa yang rela tidak membeli baju tidak makan demi buku sekolahmu?
Suatu saat nanti, kursi tempat mereka duduk akan kosong. Ranjang dimana mereka biasa tertidur eh kosong, Suara yang memanggilmu akan hilang.
Jangan sampai kamu bersimpuh di pusara mereka hanya untuk membisikkan kata maaf yang terlambat. Sayangi mereka selagi detak jantungnya masih bisa kamu dengar.
Selagi suaranya masih nyaring memanggilmu
Selagi langkah kakinya masih bisa menghampirimu
Pernahkah kamu berpikir bahwa gurumu adalah "orang tua kedua" yang tidak memiliki ikatan darah denganmu
namun mereka sangat menginginkanmu menjadi orang hebat?
Allah SWT berfirman
...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
Ilmu tidak akan berkah tanpa ridha guru. Menghormati guru bukan tentang menunduk, bukan tentang mengucap salam, bukan tentang tangan berhormat,
, tapi tentang menghargai waktu dan nyawa yang mereka habiskan untuk mencerdaskanmu. Satu senyum tulus dan kepatuhanmu adalah bayaran yang jauh lebih berharga daripada gaji mana pun bagi mereka.
Di sekolah, kita bertemu teman-teman dengan berbagai latar belakang. Terkadang, ego membuat kita saling menyakiti atau merendahkan. Padahal, teman yang baik adalah cermin diri kita. Rasulullah SAW bersabda: bahwa
"Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." (HR. Muslim).
Karena itu
Jangan ada lagi lisan yang menyakiti hati kawan. Jangan ada lagi tangan yang digunakan untuk menindas. Karena kelak, mungkin teman di sebelahmu inilah yang akan membantumu saat kamu terjatuh, atau bahkan memberikan syafaat di akhirat karena kasih sayang tulus yang pernah terjalin.
Dunia ini singkat. Prestasi akademikmu mungkin membanggakan, namun tanpa adab kepada orang tua, kepada guru, dan kepada teman, ilmu itu hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa makna.
Coba Bayangkan wajah lelah ayahmu, senyum tulus ibumu, nasihat sabar gurumu, dan tawa hangat temanmu.
Merekalah alasan kamu duduk di sini hari ini.
Maka Pulanglah nanti, peluk orang tuamu, sapa gurumu dengan takzim, dan rangkul temanmu dengan kasih sayang.
Sebab, penyesalan selalu datang saat raga telah menjauh, dan hanya doa yang tersisa di antara nisan yang membisu.




